Dengan Mengoptimalkan 3 Potensi Dari Allah
Menjadi Mukmin Syukur dan Sabar!
Sebagai pemilik alam semesta dan jagat raya dengan segala isinya yang telah Dia ciptakan. Allah Subhanahuwataala menurunkan manusia sungguh tidak dalam sebuah penciptaan sia-sia. Tentu hal itu merupakan sebuah pemahaman yang dapat kita samakan sebagai manusia berpikir. Hanya ada satu golongan kata Muhammad Salallahualaihiwasalam, yang akan masuk surga dari sekian banyak golongan pada masa sekarang. Akan tetapi bukan saatnya kita mengklaim kelompok atau golongan kitalah yang akan dipilih Nya.
Akan tetapi berupaya menjadi mukmin syukur dan mukmin sabar menurut hemat penulis adalah jawabannya. Untuk pencapaian sebagai predikat orang yang selalu bersyukur dan bersabar tadi tentunya tidaklah semuda menyebutkannya. Makanya kali ini dari hasil pertemuan pekanan penulis mendapatkan sebuah pemahaman baru yang semoga apabila didapat kesalahan dan kelalaian, semoga Allah mengampuninya. Dan kalau pun ada sebuah pembenaran, kebenaran hanyalah milik Nya.
Dalam ayat-ayat Nya, dia memberikan sebuah pengilhaman kepada umat manusia agar tetap totalitas memeluk agama Islam. Nanti dalam tulisan ini, akan penulis uraikan landasan dari Al-quran terjemaah Departemen Agama milik penulis. Walau pun dengan segala keawaman penulis. Setidaknya dalam beberapa ayat alquran ternyata Allah memberikan 3 potensi yang harus dioptimalkan manusia dalam kehidupan di dunia untuk beribah kepada Nya sehingga dapat menjadi mukmin syukur dan sabar tadi.
Tiga potensi tadi adalah pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Tidak ada satu pun dari 3 hal tadi yang tidak dimemiliki manusia secara utuh. Hanya saja, pengoptimalisasinya saja yang berbeda-beda. Nah dengan 3 potensi tadilahAllah menuntun umatnya untuk tetap dalam ‘celupan’ agama Nya secara kaffah atau menyeluruh alias totalitas. Seperti dikatakan Allah dalam al-quran, “katakanlah “Dialah yang Menciptakan kamu dan Menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur” (QS al – Mulk [67]: 23).
Makanya pendengaran, penglihatan dan hati nurani merupakan 3 potensi yang mesti dioptimalkan manusia untuk tetap bersyukur kepada Allah. Manusia sebagai umat yang diberikan penghidupan di dunia guna memberikan rahmat kepada seluruh alam, ternyata memikul sebuah tanggung jawab dari Nya untuk beribadah. Tentunya dengan 3 potensi tadi yang semata-mata agar tetap istiqomah mengemban tanggungjawab tersebut.
Dalam surah adz –Dzariyat [51] : 56, Allah berfirman. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah keapda Ku”. Di ayat lainnya pada surah al-Baqarah [2]: 21, Allah pun kembali mengingatkan. “Wahai manusia!Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” Maka sudah jelas kalau kita memang memiliki sebuah amanah suci dari Allah untuk beribadah agar menjadi manusia bertaqwa.
Apalagi dalam Islam sebagai agama penutup yang dibawa oleh nabi besar kita Muhammad Salallahualaihiwasalam, tidak diperkenankan setengah-setengah dalam memeluknya. Selain karena keragu-raguan adalah sebuah awal menuju neraka, lantaran setiap yang meragukan diperintahkan untuk meninggalkannya. Ternyata Allah pun telah memerintahkan kita dalam memasuki agama Nya, Islam secara kaffah (totalitas) alias menyeluruh. Seperti firman Allah yang berbunyi. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,” (QS al-Baqarah [2]: 208).
Makanya untuk itu perlu pengoptimalisasi 3 potensi dalam diri manusia tadi untuk sebuah keistiqomahan dijalan Allah tadi. Walau pun tidak serta merta membiarkan manusia cukup dapat melaksanakan tanggung jawab dengan beribadah sebagai mukmin yang beriman dan bertaqwa. Tetapi dengan pendengaran, penglihatan dan hati nurani tadi, manusia juga diminta untuk dapat mensyukuri nikmat Allah dan tetap menjadi mukmin sabar. Karena apabila manusia tidak memanfaatkan 3 potensi ini dalam upaya pengimanan kepada sang Khalik maka manusia tidak lain hanyalah sebuah makhluk yang tidak memiliki tujuan hidup.
Bahkan secara jelas dan penuh ketegasan Dia mengatakan, kebanyakan manusian dan jin akan menjadi bara neraka karena tidak mampu menjalankan dengan benar 3 potensi tadi untuk beribadah hanya kepada-Nya. Seperti firman Allah berikut. “Dan sungguh, akan kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS al – A’raf [7]: 175)
Dalam ayat diatas memang dituangkan indikator manusia yang tidak dapat memikul tanggungjawab dari Nya. Sehingga secara tegas Dia gambarkan kiasan terhadap manusia yang tidak mampu memikul tanggungjawab tadi. Bahkan bukan cuman itu, ancaman pun diungkapkan Nya. Makanya 3 potensi yakni penglihatan, pendengaran dan hati nurani merupakan wadah awal yang akan memberikan kekuatan untuk mengoptimalkan seluruh potensi dalam diri manusia. Tentu saja pengoptimalisasi potensi tadi hanya memiliki satu muara yakni untuk menjadi Islam secara menyeluruh sehingga melahirkan mukmin syukur serta mukmin yang sabar.
Apalagi, Allah pun berfirman kalau Dia sudah menawarkan amanah tadi kepada seluruh penghuni jagat raya ini, seperti langit, bumi dan gunung. Akan tetapi semuanya menolak lantaran ketidakmauan mengambil peran tadi dan malah khawatir tidak mampu melaksanakannya perintah sang Khalik. Seperti yang tertuang dalam surah al – Ahzab [33]: 72. “Sesunggunya Kami telah Menawarkan amanah keapda langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya engga untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat-sangat zalim dan sangat bodoh.”
Akan tetapi, di surah lain Allah pun berfirman. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (seuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (itulah) agama yaang luruh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS ar – Rum [30]: 30) Fitrah Allah dalam ayat ini maksutnya adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Makanya kalau ada manusia tidak beragama tauhid maka hal itu tidaklah wajar.
Makanya mencapai realisasi dari kalimat “hidup mulia atau mati syahid”, mukmin memerlukan pengimplementasian secara totalitas sebagai umat yang dipenuhi rasa syukur dan sabar dengan istiqomah dijalan Nya. Langkah awal yang dapat dilakukan manusia untuk itu adalah dengan memperdayakan 3 potensi tadi guna beribadah kepada Nya, sebagai sebuah tanggungjawab dari Allah untuk kita hambah Nya dengan tetap memeluk Islam dengan segala kemurniannya.
Diakhir tulisan ini, kita coba mengambil sebuah perkataan dari ulama dakwah, Helmi Aminuddin. Di mana pada pesannya tadi, dirinya menekankan 3 poin dalam rangka menghidupkan kehidupan beragama agar tidak terperosok pada dunia yang merupakan kamuflase dari kebaikan. Tiga poin tadi merupakan indikator untuk mendapatkan Islam yang orisinil.
Yakni; mempunyai kesesuaian dengan Al-quran dan Sunnah; mempunyai kesesuaian bagaimana Islam itu dipahami Salafus Sholeh (para sahabat terdahulu); dan difahami seperti bagaimana dakwah kita hari ini memahami Islam. Yakni pemahaman kita terhadap Islam tidak keluar dari Al-quran, Sunnah dan Salafus Sholeh.
Salah satu upaya untuk mengoptimalkan penglihatan, pendengaran dan hati nurani tadi adalah dengan melakukan tarbiyah. Di mana maksutnya adalah melakukan pembinaan terhadap umat dengan siraman agama Allah yang menyeluruh dan tidak keluar dari 3 poin yakni Al-quran, Sunnah dan Salafus Sholeh. Karena tarbiyah merupakan pendidikan Islam yang menyeluruh maka tidak terbantahkan kalau ia merupakan sebuah langkah awal kita melahirkan insan-insan yang istiqomah dijalan Allah.
Sehingga dengan optimalisasi 3 potensi dari Allah tadi kita menjadi mukmin syukur dan sabar. Di mana itu merupakan upaya kita untuk mengembangkannya agar terus relefan seiring dengan perkembangan jaman. Sehingga lahirlah sebuah kesamaan sikap dalam menyikapi problem – problem kehidupan dengan sebuah langkah gerakan bersama (amal jama’i) sehingga melahirkan mukmin syukur dan sabar dengan mengoptimalkan pendengaran, penglihatan dan hati nurani sebagai sebuah potensi untuk beribadah kepada Nya.
Wallahu A’lam Bissawab.

Tinggalkan Balasan